Pemeriksaan Fisioterapi

PETUNJUK PRAKTIKUM

MATA KULIAH : PEMERIKSAAN FISIOTERAPI I
BOBOT : 2 SKS
POKOK BAHASAN : PEMERIKSAAN FISIOTERAPI
SUB POKOK BAHASAN : ANAMNESA (WAWANCARA)
PERTEMUAN KE... : I (SATU)

A. TUJUAN INSTRUKSIONAL
1. Tujuan Instruksional Umum
Setelah mengikuti Mata Kuliah ini diharapkan mahasiswa mampu melakukan penegakan Asuhan Fisioterapi.
2. Tujuan Instruksional Khusus
Setelah mengikuti kegiatan praktikum ini diharapkan mahasiswa mampu melakukan tindakan anamnesa.

B. ALAT DAN BAHAN
1. Alat tulis
2. Probandus

C. PROSEDUR PELAKSANAAN
1. Perkenalan diri terapis
2. Penjelasan tujuan anamnesa (wawancara)
3. Penggalian informasi tentang :
a. Jenis Anamnesa
b. Identitas Pasien
c. Keluhan Pasien
d. Waktu dan Lama Timbulnya Keluhan
e. Lokasi Keluhan
f. Riwayat Penyakit Dahulu
g. Riwayat Keluarga
4. Membuat kesimpulan sementara hasil anamnesa

D. PELAKSANAAN PRAKTEK
1. Praktek dilakukan dengan cara demonstrasi/simulasi. Mahasiswa bertugas sebagai probandus secara bergantian. Mahasiswa melakukan anamnesa sesuai dengan kasus yang telah ditentukan.
2. Setelah menyelesaikan anamnesa, mahasiswa mahasiswa mendokumentasikan hasil praktikumnya pada buku kerja praktikum dan melaporkan pada pembimbing yang bersangkutan.

E. DAFTAR PUSTAKA
Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan Depkes RI, Dokumentasi Presiapan Praktek Profesional Fisioterapi, Jakarta, 1994
PETUNJUK PRAKTIKUM

MATA KULIAH : PEMERIKSAAN FISIOTERAPI I
BOBOT : 2 SKS
POKOK BAHASAN : PEMERIKSAAN FISIK
SUB POKOK BAHASAN : PEMERIKSAAN VITAL SIGN, IPPA
PERTEMUAN KE... : II (DUA)

A. TUJUAN INSTRUKSIONAL
1. Tujuan Instruksional Umum
Setelah mengikuti Mata Kuliah ini diharapkan mahasiswa mampu melakukan penegakan Asuhan Fisioterapi.
2. Tujuan Instruksional Khusus
a. Setelah mengikuti praktikum mata kuliah ini diharapkan mahasiswa mampu melakukan pemeriksaan vital sign
b. Setelah mengikuti praktikum mata kuliah ini diharapkan mahasiswa mampu melakukan IPPA (Inspeksi, Palpasi, Perkusi dan Auskultasi)

B. ALAT DAN BAHAN
1. Alat tulis lengkap
2. Sphignomamometer
3. Stetoscope
4. Probandus
5. Hammer Reflex

C. PROSEDUR PELAKSANAAN PRAKTIKUM
1. Praktikan menjelaskan tujuan pemeriksaan fisik.
2. Pemeriksaan fisik dibedakan menjadi dua yaitu :
a. Pemeriksaan Vital Sign
1) Pengertian
Vital Sign merupakan parameter pada tubuh yang terdiri dari pemeriksaan tekanan darah, denyut nadi, pernafasan dan suhu tubuh. Vital sign merupakan langkah awal untuk menentukan tindakan selanjutnya
2) Pemeriksaan Tekanan Darah
a) Alat Ukur : alat ukur yang digunakan sphignomamometer yang terdiri dari kantong yang terbungkus dalam manset (yang dapat mengembang), pompa karet berbentuk bulat, mamometer dimana tekanan darah mudah dibaca, lubang sekrup untuk mengempiskan udara.
b) Sphignomamometer terdiri dari dua jenis yaitu sphignomamometer air raksa dan sphignomamometer aneroid (jarum).
c) Prosedur Pelaksanaan Pengukuran Tekanan Darah
(1) Pengukuran tekanan darah dapat dilakukan di arteri mana saja yang dapat dilingkari manset di bagian proximal dan dapat diraba pada bagian distal.
(2) Arteri Brachialis sering dipakai sebagai tempat pengukuran tekanan darah karena letaknya yang mudah dicapai/superficial.
(3) Posisi pasien :
(a) dapat duduk atau berbaring
(b) lengan diatur sedemikian rupa sehingga arteri brachialis setinggi jantung
(c) lengan dalam posisi abduksi 30 – 40 derajat dan eksternal rotasi dan sedikit fleksi siku.
d) Cara Kerja
(1) lilitkan manset yang sudah kempis dengan ketat pada lengan atas sehingga batas bawah manset tersebut kira-kira 1 inchi di atas fossa ante cubitii
(2) mula-mula denyut nadi diukur dengan palpasi agar kesalahan auskultasi masih dapat dideteksi dan rabalah arteri radialis
(3) pompa manset sampai arteri tidak teraba lagi
(4) stetoskop diletakkan diatas arteri dengan perlahan-lahan. Setelah itu ada dua keadaan dimana tidak terdengar adanya bunyi aliran darah didalam pembuluh darah lancar atau berhenti
(5) bila manset dikempiskan perlahan-lahan terdengar vibrasi bunyi pada koroktoff, bunyi koroktoff ada dua fase yaitu : Fase I dimulai saat tekanan sistole hanya cukup untuk membuka tekanan darah sementara saja, dan akan terdengar bunyi nyaring yang makin lama meningkat intensitasnya. Jika makin lama tekanan manset dikurangi/diturunkan aliran pembuluh darah meningkat dinamakan Fase II dan seterusnya makin lama makin jelas suaranya/ketukannya. Selanjutnya suara ketukan makin lama makin tak terdengar dan dinamakan tekanan diastolik.
(6) Kemudian dicatat dari mulai ketukan pertama nyaring misalnya 120 sistole dan bunyi ketukan yang lemah dan makin lama makin menghilang misalnya 90 diastolik.
3) Pemeriksaan Denyut Nadi
a) Alat Ukur : palpasi tangan
b) Prosedur : sebagian orang mengukur denyut nadi dengan dua jari atau tiga jari. Perhatikan tekanan, irama, kecepatan dan kontour dari denyut nadi. Hitunglah denyut nadi dalam semenit penuh, biasanya kita menghitung selama 15 detik kemudian hasilnya dikali 4. manfaat pemeriksaan denyut nadi akan lebih bermakna jika dilakukan pada lebih dari satu arteri. Misalnya pada arteri carotis dan arteri brachialis.
c) Satuan Ukur : kali (X)/menit. Normal 80 – 100 x/mnt
4) Pemeriksaan Suhu
a) Alat Ukur : Termometer
b) Satuan Ukur : Celcius atau Fahrenheit
c) Prosedur :
Ada dua macam cara pengukuran, yaitu :
(1) Suhu oral : mudah diukur tetapi kadang-kadang mudah keliru. Letakkan termometer di bawah lidah sejajar dengangusi bawah selama 3 menit. Suhu oral normal adalah 36,8 C + 0,3 C atau 98,5 F + 0,5 F. Peningkatan suhu tubuh dapat terjadi setelah
5) Pemeriksaan Pernafasan
a) Alat Ukur : Observasi. Dalam pemeriksaan pernafasan, selain yang diamati jumlah pernafasan permenit perlu juga diperhatikan volume udara, usaha bernafas, pola pernafasan, keikutsertaan otot-otot pernafasan.
b) Satuan : X/mnt (kali per menit). Nilai normalnya 20 – 24 kali per menit
b. IPPA (Inspeksi, Palpasi, Perkusi dan Auskultasi)
1) Inspeksi : adalah pemeriksaan dengan cara melihat dan mengamati.
a) Macam Inspeksi : Statis yaitu melakukan inspeksi dimana penderita dalam keadaan diam. Dinamis yaitu melakukan inspeksi dimana penderita dalam keadaan bergerak, misalnya waktu penderita berjalan.
b) Prinsip melakukan inspeksi : Suasana tenang, kekeluargaan; penerangan/cahaya cukup; sopan ; regio pengamatan jelas, terencana (lokal, regional atau total) ; inspeksi dimulai sejak penderita masuk dalam ruangan.
c) Hal-hal yang diamati : keadaan umum, sikap, adanya deformitas, langkah (gait), ekspresi wajah, warna kulit, dll.
2) Palpasi : pemeriksaan dengan jalan meraba, menekan dan memegang organ/bagian tubuh pasien/klien untuk mengetahui adanya ketegangan otot, nyeri tekan, suhu, tumor/odema, kontur organ dan lain-lain.
Prinsip palpasi :
a) Posisi penderita relaks, sehingga memudahkan pelaksanaan pemeriksaan.
b) Meminta ijin kepada pasien/keluarga penderita
c) Bandingkan antara organ yang sakit dan sehat
d) Memperhatikan prinsip-prinsip kesopanan
e) Menjelaskan tujuan palpasi kepada penderita
3) Perkusi : pemeriksaan dengan jalan mengetuk/vibrasi.
Prinsip perkusi :
a) Posisi penderita rileks sehingga memudahkan pelaksanaan pemeriksaan
b) Memperhatikan kesopanan
c) Membandingkan antara organ yang sehat dan sakit
d) Menjelaskan tujuan perkusi
4) Auskultasi : pemeriksaan dengan menggunakan indera pendengaran. Biasanya menggunakan alat bantu stetoskop. Digunakan untuk mengetahui/mendengarkan bunyi paru, bunyi jantung, sistole dan diastole, dll. Prinsip auskultasi :
a) Posisi penderita rileks, sehingga memudahkan melakukan pemeriksaan
b) Memperhatikan prinsip kesopanan
c) Menjelaskan tujuan auskultasi

D. PELAKSANAAN PRAKTIKUM
Praktikkum dilaksanakan dengan metode simulasi. Mahasiswa secara bergantian berperan sebagai pasien dan terapis.

E. DAFTAR PUSTAKA
Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan Depkes RI, Dokumentasi Presiapan Praktek Profesional Fisioterapi, Jakarta, 1994

0 comments on Pemeriksaan Fisioterapi :

Post a Comment

Blog Archive

Sharing Mania Data