Heart Rate dan METs Sebagai Indikator Pelatihan Olahraga


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Olahraga dan sejarah manusia Olahraga atau gerak badan sudah ada sejak manusia hidup, sebab yang dimaksud olahraga adalah menggerakan tubuh dalam jangka waktu tertentu. Manusia sejak zaman purba tentu sudah menggerakkan tangan dan kakinya agar hidupnya berkelanjutan. Mungkin berjalan atau berlari, menaiki bukit atau menuruni lembah melempar atau menangkap, memukul dan menangkis, mendayung, berenang, menyelam, mengangkat dan memikul barang. Olahraga untuk mencapai kesehatan tentu memerlukan takaran yang pas, sebab telah dipahami tidak semua olahraga akan memberikan efek yang positif. Olahraga mempunyai format, aturan atau pola. Bila diibaratkan dalam membuat pakaian, maka untuk merancang pakaian yang pas perlu dibuatkan pola yang disesuaikan dengan bentuk tubuh seseorang. Dalam olahraga perlu adanya suatu proses latihan guna menguasai gerak yang terdapat dalam olahraga tersebut.
Latihan adalah proses yang sistematis dari berlatih atau bekerja yang dilakukan secara berulang-ulang dengan kian hari kian menambah beban latihannya atau pekerjaannya (Harsono (1988:101). Kemdian pengertian lain menyebutkan bahwa latihan adalah suatu program latihan fisik untuk mengembangkan seorang atlit dalam menghadapi pertandingan penting (Fox, Bowers & Foss, 1993:693). Peningkatan kemampuan dalam aktivitas olahraga dapat dilakukan dengan berbagai macam aktivitas. Salah satunya yaitu dengan menggunakan latihan dengan intensitas yang teratur. Latihan tidak harus dengan intensitas yang terlalu berat. Frekuensi latihan yang terjaga akan lebih baik dari melakukan latihan dengan intensitas yang berat tetapi tidak terjaga frekuensinya. Menurut Bompa, (dalam Budiwanto 1994:4) Latihan merupakan suatu kegiatan olahraga yang sistematis dalam waktu yang panjang, ditingkatkan secara bertahap dan perorangan, bertujuan membentuk manusia yang berfungsi fisiologis dan psikologisnya untuk memenuhi tuntutan tugas.
Program pelatihan suatu cabang olahraga sangat penting guna meningkatkan kemajuan seorang atlet baik program pelatihan fisik, teknik, strategi serta mental. Disamping itu dalam program pelatihan perlu adanya suatu indicator evaluasi untuk mengukur serta mengetahui sejauh mana kondisi seorang atlet tersebut. Ada beberapa cara untuk mengukur intensitas latihan antara lain :
1. Sebagai kecepatan tertentu atau power yang dikeluarkan
2. Sebagai persentase VO2max
3. Sebagai persentase denyut jantung maximal (heart Rate)
4. Sebagai perkalian Metabolic equivalent (METs)
Banyak pelatih yang telah gagal dalam memberikan kadar latihan kepada atletnya. Latihan yang diberikan kadang-kadang dirasakan terlalu berat atau bahkan terlalu ringan oleh atlet. Hal ini terjadi kemungkinan disebabkan karena banyak pelatih yang berasal dari mantan atlet yang tidak dibekali ilmu-ilmu tentang kepelatihan, sehingga kegiatan melatih hanya berdasarkan atas pengalaman mereka ketika menjadi atlet.
Kemampuan dalam mengadakan evaluasi terhadap berat atau ringannya suatu program pelatihan sangat dibutuhkan oleh seorang pelatih. Karena dengan mengetahui berat ringannya suatu latihan, maka program pelatihan yang dirancang akan memiliki dampak yang lebih baik dalam uapaya meningkatkan prestasi atlet.
Perubahan-perubahan fisiologis dan psikologis hanyalah mungkin apabila atlet dilatih dengan program pada batas ambang latihan secara intensif (Harsono, 1988:115). Untuk mengevaluasi apakah suatu program pelatihan telah cukup merangsang organ-organ fisiologis atlet, biasanya dapat dilihat dari intensitas pelatihan yang diberikan oleh pelatih. Intensitas pelatihan merupakan salah satu komponen yang sangat penting yang berkaitan dengan kualitas kerja yang dilakukan dalam kurun waktu tertentu. Lebih banyak kerja yang dilakukan dalam satuan waktu, akan lebih tinggi pula intensitasnya (Bompa, 1990:79).
Untuk mengadakan evaluasi terhadap intensitas pelatihan ada beberapa metode yang digunakan. Namun dalam tulisan ini hanya disajikan dua metode yaitu: mengetahui intensitas seseorang berdasarkan penggunaan energi yang disebut METs (metode langsung) berdasarkan atas denyut jantung (HR=Heart Rate) latihan per menit yang dikenal dengan metode tidak langsung.

B. Rumusan Masalah
1. Apakah Pengertian Evaluasi, Tes dan Pengukuran?
2. Apakah pengertian heart rate?
3. Bagaimana heart rate digunakan sebagai indikator pelatihan fisik?
4. Apakah pengertian METs?
5. Bagaimana METs digunakan sebagai indikator pelatihan fisik?

C. Tujuan
1. Memahami Pengertian Evaluasi, Tes dan Pengukuran.
2. Mengetahui pengertian heart rate.
3. Mengetahui cara menggunakan heart rate sebagai indikator pelatihan fisik.
4. Mengetahui pengertian METs.
5. Mengetahui cara menggunakan METs sebagai indikator pelatihan fisik.


BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Evaluasi, Tes dan Pengukuran

Dalam kegiatan pengamatan atau penelitian akan selalu berhubungan dengan pengukuran, tes dan evaluasi. Ketiga hal tersebut merupakan alat dalam melaksanakan pengamatan. Hasil dari pengamatan akan diperoleh dari kegiatan mengukur, kemudian dilanjutkan mengetes dan terakhir akan selalu diadakan evaluasi terkait hal yang diteliti. Selain untuk penelitian, ketiga hal tersebut menentukan hasil dari tindakan yang dilakukan. Contoh dalam dunia olahraga, hasil dari latihan yang dilakukan akan diperoleh melalui tiga tahapan tersebut. Hasil dari pengamatan selanjutnya akan diberikan tindak lanjut. Berikut akan dijabarkan mengenai pengertian dari Pengukuran, Tes, dan Evaluasi dan terapannya dalam olahraga.
1. Pengukuran
Pengukuran atau measurement merupakan suatu proses atau kegiatan untuk menentukan kuantitas sesuatu yang bersifat numeric (WordPress.com). Pengukuran lebih bersifat kuantitatif, bahkan merupakan instrumen untuk melakukan penilaian. Unsur pokok dalam kegiatan pengukuran ini, antara lain adalah sebagai berikut:
a. Tujuan pengukuran.
b. Ada objek ukur
c. Alat ukur
d. Proses pengukuran
e. Hasil pengukuran kuantitatif.
Kemudian dijabarkan juga pengertian pengukuran menurut para ahli:
a. Menurut Budi Hatoro (dalam fajar’s Web Blogs) pengukuran atau measurement merupakan suatu proses atau kegiatan untuk menentukan kuantitas sesuatu yang bersifat numerik. Pengukuran lebih bersifat kuantitatif, bahkan merupakan instrumen untuk melakukan penilaian.
b. Menurut Akmad Sudrajat (dalam WordPress.com) pengukuran (measurement) adalah proses pemberian angka atau usaha memperoleh deskripsi numerik dari suatu tingkatan di mana seorang peserta didik telah mencapai karakteristik tertentu.
c. Menurut Lien (dalam WordPress.com) Wpengukuran adalah sejumlah data yang dikumpul dengan menggunakan alat ukur yang objektif untuk keperluan analisis dan interpretasi.
d. Menurut Suharsimi Arikunto (dalam WordPress.com) pengukuran adalah membandingkan sesuatu dengan suatu ukuran.
e. Menurut Pflanzagl’s (dalam WordPress.com) pengukuran adalah proses menyebutkan dengan pasti angka-angka tertentu untuk mendiskripsikan suatu atribut empiri dari suatu produk atau kejadian dengan ketentuan tertentu.
Dapat diberikan kesimpulan bahwa pengukuran adalah kegiatan yang menggunakan instrument untuk menentukan atau membandingkan sesuatu dengan menggunakan satuan ukuran. Pengukuran akan selalu melibatkan suatu instrument sebagai alat ukur terhadap obyek yang diukur.
2. Tes
Tes adalah alat untuk memperoleh data tentang perilaku individu (Allen dan Yen, 1979:1). Karena itu, didlam tes terdapat sekumpulan pertanyaan yang harus dijawab atau tugas yang harus dikerjakan, yang akan memberikan informasi mengenai aspek psikologis tertentu (sampel perilaku) berdasarkan jawaban yang diberikan individu yang dikenaites tersebut (anastari, 1982:22). Pada buku psychological Testing, Anastari, (1982:22) menyatakan tes merupakan pengukuran yang obyektif dan standard. Cronbach menanbahkan bahwa tes adalah prosedur yang sitematis guna mengopservasi dan member deskripsi sejumblah atau lebih cirri seseorang dengan bantuan skala numerik atau suatu system kategoris. Dengan demikian cepat dinyatakan bahwa tes adalah prosedur yang sistematis. Ini berarti butir tes disusun berdasarkan cara dan aturan tertentu, pemberian skor harus jelas dan dilakukukan secara yrtperinci, serta individu yang menempuh tes tersebut harus mendapat butir tes yang sama dan dalam kondisi yang sebanding.

3. Evaluasi
Pemahaman mengenai pengertian evaluasi program dapat berbeda-beda sesuai dengan pengertian evaluasi yang bervariatif oleh para pakar evaluasi. Pengertian evaluasi menurutStufflebeam yang di kutip oleh Ansyar (1989) bahwa evaluasi adalah proses memperoleh dan menyajikan informasi yang berguna untuk mempertimbangkan alternatif-alternatif pengambilan keputusan. Selanjutnya The joint committee on Standars For Educational Evaluation (1994), mendefinisikan bahwa evaluasi sebagai kegiatan investigasi yang sistematis tentang keberhasilan suatu tujuan. Sedangkan Djaali, Mulyono dan Ramli (2000) mendefinisikan bahwa Evaluasi sebagai proses menilai sesuatu berdasarkan standar objektif yang telah ditetapkan kemudian diambil keputusan atas obyek yang dievaluasi. Rutman and Mowbray 1983, mendefinisikan evaluasi adalah penggunaan metode ilmiah untuk menilai implementasi dan outcomes suatu program yang berguna untuk proses membuat keputusan.
Chelimsky (1989), mendefinisikan evaluasi adalah suatu metode penelitian yang sistematis untuk menilai rancangan,implementasi dan efektifitas suatu program. Wirawan (2006) Evaluasi adalah proses mengumpulkan dan menyajikan informasi mengenai objek evaluasi, menilainya dengan standar evaluasi dan hasilnya dipergunakan untuk mengambil keputusan mengenai objek evaluasi. Dari definisi evaluasi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa evaluasi adalah penerapan prosedur ilmiah yang sistematis untuk menilai rancangan,selanjutnya menyajikan informasi dalam rangka pengambilan keputusan terhadapimplementasi dan efektifitas suatu program.
Selanjutnya dalam dunia olahraga, ketiga komponen tersebut sangat penting untuk digunakan. Dalam program pelatihan olahraga perlu adanya ketiga komponen tersebut untuk relevansi antara kenyataan dan harapan serta tinjauan terhadap program yangakan dilaksanakan. Contoh dalam program pelatihan fisik akan digunakan dua indicator yang digunakan sebagai evaluasi yang sebelumnya telah melalui prosedur tes dan pengukuran adalah penggunakan heart rate (denyut jantung) dan METs. Dua indicator tersebut digunakan untuk mengetahui hasil dari pelatihan fisik yang telah dilakukan oleh seseorang.

B. Pengertian Heart Rate
Denyut nadi atau Heart Rate (HR) adalah banyaknya detak jantung per menit. Sudah sejak lama diketahui bahwa pembebanan pada jantung dapat digunakan, apakah tambahan beban yang diberikan itu sudah mencapai sasaran atau belum. Jadi setiap latihan biasanya ditentukan berapa besarnya denyut jantung yang harus dicapai (Soekarman, 1987: 63)
1. Peran Kardiovaskuler dalam Kerja Fisik
Adaptasi fisiologi terhadap kerja fisik dapat dibagi dalam adaptasi akut dan kronik. Adaptasi akut merupakan penyesuaian tubuh yang terjadi pada saat kerja dilakukan, adaptasi kronik merupakan hasil perubahan pada tubuh oleh suatu periode program latihan fisik. Adanya kerja fisik berarti terdapat suatu pembebanan bagi tubuh dan hal ini akan mengakibatkan terjadinya mekanisme penyesuaian dari alat atau organ tubuh bergantung kepada usia, suhu lingkungan, berat ringan beban, lamanya, cara melakukan dan jumlah organ yang terlibat selama kerja fisik tersebut. Fungsi utama sistem kardiovaskuler selama kerja fisik adalah menghantar darah ke jaringan yang aktif termasuk oksigen dan nutrien, dan mengangkut produk metabolit dari jaringan tersebut ke alat ekskresi.
2. Frekuensi Heart Rate dengan Kerja Fisik
Frekuensi denyut nadi adalah gambaran dari frekuensi denyut jantung, dimana ini adalah merupakan parameter cara sederhana dan mudah diukur dan cukup informatip untuk faal kardiovaskuler, karena hal tidak mungkin bila kita mengukur denyut jantung langsung ke jantungnya. Pada keadaan istirahat frekuensi denyut nadi berkisar antara 60-80 per menit. Hal ini mudah dideteksi dengan cara palpasi maupun dengan menggunakan alat seperti pulse meter, cardiac monitoring dan sebagainya; tempat pengukuran dapat di a. radialis, a. carotis dan pada apex jantung sendiri. Frekuensi denyut jantung terendah diperoleh pada keadaan istirahat berbaring. Pada posisi duduk sedikit meningkat dan pada posisi berdiri meningkat lebih tinggi dari posisi duduk. Hal ini disebabkan oleh efek gravitasi yang mengurangi jumlah arus balik vena ke jantung yang selanjutnya mengurangi jumlah isi sekuncup. Untuk menjaga agar curah jantung tetap maka frekuensi denyut jantung meningkat, curah jantung = frekuensi denyut jantung X isi sekuncup.
Sebelum seseorang melakukan kerja fisik, frekuensi denyut jantung pra kerja meningkat di atas nilai pada keadaan istirahat. Hal ini merupakan refleks anticipatory yang mungkin melalui sekresi catecholamine dari medula kelenjar adrenal. Begitu kerja fisik dimulai, frekuensi denyut jantung segera meningkat. Terdapat hubungan linier antara frekuensi denyut jantung dengan intensitas kerja.
Makin baik kondisi seseorang akan diperoleh frekuensi denyut jantung yang lebih rendah untuk beban kerja yang sama. Pada suatu saat meskipun beban ditambah tetapi frekuensi denyut jantung tetap. Frekuensi denyut jantung pada keadaan tersebut disebut frekuensi maksimal. Tiap orang mempunyai frekuensi maksimal denyut jantung yang tampaknya mempunyai hubungan erat dengan faktor usia. (Frekuensi maksimal denyut jantung = 220 - usia dengan standar deviasi ± 10 denyut).

C. Heart Rate Sebagai Indikator Pelatihan Fisik

1. Cara Menentukan Target Heart Rate
a. Cadangan denyut jantung (Heart rate Reserve= HRR)
HRR= Denyut jantung maksimal - denyut jantung istirahat Target Heart Rate = 75 % HRR + denyut jantung istirahat. Apabila denyut jantung maksimal 220, denyut jantung istirahat 70, maka THR = 75% (denyut jantung maksimal – denyut jantung istirahat ) + denyut jantung istirahat = 75 /100 (220 - 50) + 50 = 177.
Jadi pada saat latihan yang harus dicapai ialah beban yang menaikkan denyut jantung sampai 180. Kalau terlatih maka denyut jantung istirahat akan menurunkan sehingga HRR meningkat dan THR menjadi berubah sehinga beban latihan juga dapat ditingkatkan.
Contoh : Umpama denyut jantung istirahat menjadi 50, maka THR + 75/100 (220-50)+50 + 177
b. Denyut jantung maksimal (Maksimal Heart Rate)
Oleh karena dipengaruhi oleh umur maka biasanya digunakan rumus : HR max = 220 – umur. Jadi, sebagai contoh, jika seseorang yang berusia 25 tahun ingin berlatih dengan 70% denyut jantung maximal mereka :
• HRmax = 220 - 25 = 195bpm
• 70% HRmax = 195 x 0,7 = 137 bpm.
Apabila dibandingkan THR, dengan HRR dan HR max maka didapat hasil sebagai berikut.

THR % HRR %HRmax
186
180
173
166
160
153
146 90
85
80
75
70
65
60 93
90
87
83
80
76
73

Pada saat sekarang berat latihan dapat ditentukan dengan nilai ambang anaerobic (anaerobic threshold Method). Maka ini hanya dapat dikerjakan di laboratorium. Dilapangan lebih mudah menggunakan Metode denyut jantung. Metode denyut jantung lebih menekankan pada kemampuan system jantung – paru sedangkan Metode nilai ambang anaerobic menetapkan pada kemampuan otot. Sebetulnya yang paling baik juga dapat dilakukan dengan meningkatkan frekuensi lamanya latihan. Lamanya latihan : pada umumnya, orang berpedoman bahwa hasil nya akan lebih besar. Frekuensi Latihan : Frekuensi latihan ini berlainan untuk bermacam-macam olahraga. Sebagai pedoman umum, untuk latihan aerobic adalah 3 -5 hari dalam seminggu. Dan lama nya 16 minggu atau lebih . Sedangkan untuk lari cepat adalah 5 hari perminggu.
2. Denyut Jantung Pemulihan
Denyut jantung seharusnya dibawah 120 sesudah 2 sampai 5 menit sesudah olahraga berhenti tergantung kepada tingkat kebugaran. Jika denyut jantungnya lebih tinggi, pendinginan yang tidak cukup atau tingkat kebugaran mungkin merupakan penyebabnya. Pemulihan denyut jantung yang lamban mungkin juga disebabkan oleh penyakit atau olahraga yang terlalu keras. Jika itu masalahnya, kurangilah intensitas olahraga untuk menyesuaikan denyut jantung. pemeriksaan denyut jantung pada akhir latihan aerobik seharusnya dibawah 100 bpm.
3. Menghitung Denyut Jantung Sasaran
Menemukan denyut jantung pada ambang anaerob – titik dimana tubuh mulai kekurangan oksigen pada saat olahraga dan asam laktat terbentuk pada otot-otot anda – mungkin merupakan cara yang terbaik untuk menentukan denyut jantung sasaran yang tepat untuk berolahraga sesudah serangan jantung.
Dr. Wybe Nieuwland mengukur kapasitas olahragan pada 91 pria yang mengalami penyakit jantung koroner akhir-akhir ini. Para peneliti membandingkan Vo2max dengan kapasitas latihan puncak. Mereka juga membandingkan denyut jantung pada ambang anaerobic dengan denyut jantung sasaran (IFA Heart Rate Calculation_files)
Pada ambang anaerobik, denyut jantung berkisar antara 55% sampai 96% denyut puncak. Untuk sekitar 40% pasien, denyut jantung pada ambang anaerobic lebih dari 10% dari denyut jantung “target” mereka yang sangat terkenal.
Jadi apakah artinya? Ini berarti bahwa anjuran olahraga individu berdasarkan denyut jantung “target” tertentu mungkin menentukan level intensitas yang salah untuk olahraga. Itulah sebabnya program olahraga kurang ditolerir oleh beberapa pasien penyakit Jantung.

D. Pengertian METs
Salah satu cara untuk memperlihatkan penggunaan energi dalam melakukan aktivitas adalah melaporkan usaha kerja pada sebuah MET. MET adalah singkatan dari “Metabolic Equivalent”. Sebuah MET didefinisikan sebagai penggunaan energi (VO2) diukur dengan satuan mL/kg/menit pada keadaan normal (dalam kondisi tubuh istirahat) (Foss dan Keteyian,1998:80). Pendeknya, sebuah MET adalah VO2 istirahat. Untuk rata-rata orang dewasa 1 MET kira-kira sama dengan 3,5 mL. O2 dikonsumsi per kilogram berat badan per menit (1 MET = 3,5 mL/kg/min) ini juga berarti kira-kira 1 kcal per kg berat badan per jam. Kondisi yang konstan ini dapat juga dipergunakan untuk mengadakan istimasi terhadap VO2 seseorang dalam keadaan istirahat. Contohnya seseorang berat badan 80 kg, akan memiliki VO2 dalam keadaan istirahat kira-kira 280 mL/menit (3,5 mL/kg/min X 80 kg) atau 0,280L/min.
METs (jamak) artinya kelipatan satu metabolisme dalam keadaan istirahat. Satu latihan membutuhkan 10 METs, secara sederhana berarti penggunaan oksigen selama aktivitas 10 kali dibandingkan VO2 dalam keadaan istirahat, atau 3,5 mL/kg/min X 10 dimana sama dengan 35 mL/kg/min.

E. METs Sebagai Indikator Pelatihan Fisik
Intensitas adalah faktor terpenting dalam perkembangan maksimal pemasukan oksigen (VO2 max); intensitas merefleksikan kebutuhan energi dalam latihan, jumlah oksigen yang dikonsumsi, dan kalori energi yang dikeluarkan. Walaupun intensitas biasanya didefenisikan dengan denyut jantung saat latihan. Di bawah ini ukuran-ukuran lainnya yang menggambarkan ukuran intensitas latihan.
Tabel 2.3 Ukuran Intensitas Latihan
Intensitas Denyut jantung (bpm) VO2 (l/min) Cal/minb METc
Ringan 100 1.0 5 4.0
Sedang 135 2.0 10 8.1
Berat 170 3.0 15 12.2
Sumber : Brian J. Sharkey (2003:107)
Berdasarkan table di atas ini, kita lihat bahwa bila intensitas latihan ringan dengan denyut jantung 100, pengambilan maksimal oksigen per menit 1.0 maka akan menghabiskan kalori 5 per menit dan perhitungan MET-nya 4.0.
Dengan perhitungan matematika ini dapat juga dipergunakan dalam menghitung bentuk latihan yang lain dengan memakai istilah METs. Contoh: berapa banyak METs yang diperlukan selama lari treadmill, dengan asumsi bahwa berat badan pelakunya adalah 70 kg?. Kita ingat bahwa semua VO2 untuk latihan adalah 2,8 L/min oleh karena itu VO2 per kg berat badan dasarnya adalah 2800 mL : 70 kg = 40 mL/kg/min, karena 1 MET kira-kira sama dengan 3,5 mL/kg/min, maka penggunaan O2 pada contoh di atas sebesar 11,4 METs (40mL/kg/min : 3,5 mL/kg/min). Pada table 2 disediakan nilai METs yang ditentukan sebelumnya untuk kebutuhan aneka ragam aktivitas waktu luang.
Tabel 2.4. Perkiraan energi yang dibutuhkan dalam METs untuk bersepeda secara stasiun.
Berat badan

kg lb Exercise Rate (kg-m/menit dan watts)

450 600 750 900 1050 1200 (kg-m/mnt
50 75 100 125 150 175 200 (watts)
50 110 5,1 6,9 8,6 10,3 12,0 13,7 15,4
60 132 4.3 5,7 7,1 8,6 10,0 11,4 12,9
70 154 3,7 4,9 6,1 7,3 8,6 9,8 11,0
80 176 3,2 4,3 5,4 6,4 7,5 8,6 9,6
90 198 2,9 3,8 4,8 5,7 6,7 7,6 8,6
100 220 2,6 3,4 4,3 5,1 6,0 6,9 7,7
Sumber (Foss dan Keteyian, 1998:91)
Tabel 2.5. METs values associated with common occupational and leisure physical activities
Activities METS value Activities METS value
Assembly line worker 3,5 Mowing lown 4,5
Bowling 3,0 Panter 4,5
Bus driver 3,0 Security guard 2,5
Carpenter 6,0 Skiing: (downhill, light)
(nordic) 5,0
7,0
Desk worker 1,5 Snow removel: (hand shovel)
(blower) 6,0
4,5
Famer 5,0 Steel worker 8,0
Fire fighter 12,0 Swimming (laps, slow) 8,0
Gardening 5,0 Tennis (general) 7,0
Golf: (carrying clubs) (with cart) 5,5
3,5 Walking (3,0 mph) 3,3
Hunting 6,0
Machine tool operator 4,0
Sumber (Foss dan Keteyian, 1998:92)

Konversi METs














Salah satu cara untuk mengubah dari total kalori per menit(cal/min) ke equivalent oksigen dalam liter (l/min) atau mililiter (ml/kg.min) ke equivalent metabolisme (METs). Untuk mengubah dari satu lainnya, contohnya : jika menggunakan 1 liter Oksigen per menit (1 L/menit) dalam jalan cepat, anda akan membakar 5 cal/min (Lx5 cal/min(LX5 cal/min) dan 300 cal/hr (5X60).


BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

METs merupakan metode langsung untuk menentukan intensitas latihan, sedangkan HR metode tidak langsung. Hubungan kedua metode ini dapat dilihat ketika subjek melakukan GXT (graded exercise test) maksimal, pada treadmill VO2max subjek adalah 12 METs. Sehingga 60% dan 80% VO2max sama dengan kira-kira 7,2 dan 9,6 METs.
Salah satu cara untuk memperlihatkan penggunaan energi dalam melakukan aktivitas adalah melaporkan usaha kerja pada sebuah MET. MET adalah singkatan dari “Metabolic Equivalent”. Sebuah MET didefinisikan sebagai penggunaan energi (VO2) diukur dengan satuan mL/kg/menit pada keadaan normal (dalam kondisi tubuh istirahat) Pendeknya, sebuah MET adalah VO2 istirahat. Untuk rata-rata orang dewasa 1 MET kira-kira sama dengan 3,5 mL.

B. Saran

Dalam melakukan latihan perlu adanya suatu indicator untuk mengetahui hasil dari latihan yang dilakukan. Untuk melakukan tes serta evaluasi terhadap latihan yang digunakan dapat menggunakan METs maupun Heart rate. Secara metode apabila melakukan suatu tes maka akan lebih relevan jika menggunakan field test yang didukung dengan lab test.

DAFTAR PUSTAKA

ACSM. Panduan Uji Latihan Jasmani dan Peresepanya. Alih Bahasa Atmadja, Doewes. Ed. 5. - Jakarta : EGC.2003.
Bompa, Tudor.O.200. Total Traing for Young Champions. Unitet States.
Human k kenetics

Foss L. Merle, Keteyian J. Steven. 1998. Physiological Basis for Exercise and Sport. Boston: Mc Graw-Hill.
Fox, Edwaard. 1984. Sport Physiology Second Edition.USA: CBS College Publishing Soundres Company
Fox EL, Bower RW, dan Foss ML, 1993. The Physiological Basis for Exercise and Sport, IOWA: WBC Brown & Benchmark.
Fletcher at al. 2001. Exercise Standards for Testing and Training (Majalah kesehatan). The Harvard School of Public Healt Nutrition.
Guyton. 1994. Fisiologi. Alih bahasa Ken Ariata Tengadi dkk. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran, EGC.

Harsono. 1988. Coaching Dan Aspek-aspek Pshycologis Dalam Coaching. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Dirjendikti.

Lamb, David R. 1984. Physiology of Exercise Respon and Adaptations. New York : Macmillan Publishing Co.
Michael Kent. 1994, The Oxford Dictionary of Sports Science and Madicine. Oxford New York. Oxford University Press.
Russell R. Pate dkk. 1993. Dasar-dasar Ilmiah Kepelatihan (terj. Kasiyo Dwijowinoto). Semarang: IKIP Semarang Press.
Sharkey, Brian J. 1993. Kebugaran dan Kesehatan. di Terjemahkan Nasution Ed. 1, Cet.1 Jakarta
IFA Heart Rate Calculation_files. (12.30 : 01/07/’08)
mets 2_files. (12.50 : 01/07/’08)
KIN 433 -- Monitoring Intensity Methods.htm (13.50 : 01/07/’08)
Fajar’s web blog’s dalam www.google.com diakses tanggal 7 Juli 2011
WordPress.com diakses tanggal 7 Juli 2011

0 comments on Heart Rate dan METs Sebagai Indikator Pelatihan Olahraga :

Post a Comment

Sharing Mania Data